Artikel

NU DAN HABAIB

Status seorang petinggi ormas Islam (NU), yang menyindir kedatangan Habib Umar bin Hafidz, ulama habaib dari Hadramaut Yaman, menjadi heboh dijagad media sosial. Status itu memang “nyelekit” sehingga memicu kemarahan, bukan hanya habaib, tetapi juga santri lokal dan para kiai.

Banyak yang menyayangkan statemen tersebut. Para ulama meminta agar yang bersangkutan meminta maaf. Supaya kegaduhan demi kegaduhan reda. Dan hubungan habaib dan para kiai semakin kuat.

Dalam tulisan statusnya itu, ia meminta supaya Habib tidak bolak-balik datang ke Indonesia, karena negaranya saja porak-poranda karena Perang.

Patut menjadi renungan, bagaimana membandingkan wilayah aman dan tidak aman. Ia pastinya tidak tahu yang sebenarnya di negeri sana. Banyak saksi yang menyatakan, Hadramaut jauh lebih aman dari Jakarta. Kejahatan minim, hampir nihil. Kecuali kecil-kecil.

Meski ia kemudoan meminta maaf, tetapi ada beberapa hal yang patut diberi perhatian oleh para ulama, habaib dan kiai NU saat ini. Yakni, ada gejala loos of adab terhadap habaib.

Perlu diingat kembali, bahwa dari sisi historis NU, peran habaib tidak dapat terpisahkan dari ormas Islam terbesar di Indonesia ini. NU berdiri pada tahun 1926 setelah mendapatkan restu dari sejumlah tokoh habaib di Jawa Timur; yaitu: Habib Abdullah bin Ali al-Haddad (Sangeng Bangil), Habib Abu Bakar bin Husein Assegaf (Bangil), Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf (Gresik), dan Habib Husein al-Haddad (Jombang).

Tokoh habib tersebut memberi restu dan ridha NU didirikan. Tentunya, ini menunjukkan betapa rekatnya hubungan habaib dan para kiai NU. Memang dalam struktur pengurusan, tidak banyak dari kalangan habaib. Tetapi para habaib ini menjaga dari belakang. Jika ada isu-isu penting, merekalah yang diminta nasihatnya.

Hormat kepada habaib merupakan ajaran dalam tradisi NU. Ajaran ini begitu lekat. Mereka saling menguatkan dalam dakwah. Sampai-sampai tidak sedikit terjalin hubungan kekerabatan karena pernikahan.

Sebagaimana termaktub dalam turats-turats banyak riwayat yang menganjurkan untuk memperhatikan kepada anak cucu Nabi Saw.

Karena itu dalam setiap ada majelis, para kiai enggan memimpin doa kalau ada ulama habaib di situ.

Tradisi NU sejak awal berdiri dan berbasis di pesantren itu memang dikenal kental dengan ajaran adabnya.

Para santri pun hormat pada anak kiai. Apalagi terhadap anak cucu Nabi Saw.

Jika ada yang tidak hormat kepada ulama habaib, maka itu bukan ciri NU. Pernyataan oknum itu dan pendukungnya sudah menunjukkan perlu upaya-upaya edukatif untuk generasi muda untuk mencontoh para kiai pendahulunya.

Karena itu, banyak putra-putra Kiai NU yang belajar ke Yaman, Mesir, Maroko, Makkah dan Madinah.

Pendiri NU juga alumni Makkah. Hadratus Syaikh KH Hasyim Asyari meninggalkan Indonesia bertahun-tahun untuk belajar di Masyayikh dan Habaib di Makkah.

Mencintai habaib dalam tradisi NU juga berdasarkan tuntunan syara’. Tidak atas dasar fanatik. Habaib di NU bagaikan benteng NU dlm menjaga akidah Ahlussunnah wal Jama’ah.

Namun sejak PBNU memviralkan konsep “Nusantara”, mulai ditemukan anak-anak muda NU yang kurang suka hal-hal yang berbau Arab. Entah apa yang didoktrinkan, tetapi yang jelas mereka jd sombong dan merendahkan negara-negara Arab karena sedang perang.

Seakan Indonesia hebat, aman sentosa, bahagia, dll. sementara Arab porak poranda, hancur karena perang.

Padahal, yang perang di Arab itu 4 negara dr 20-an negara. Dari empat itu yang cukup serius hanya dua negara yaitu Iraq dan Suriah. Itu pun setelah ada campur tangan negara-engara Barat. Sementara, negara Arab lain aman sentosa.

Persoalannya adalah, seperti ada gerakan massal mencurigai dan tidak menyukai Arab.

Oknum-oknum yang liberal kemungkinan memiliki peran di sini. Dulu, orientalis dan kolonialis juga berusaha memisahkan pribumi dengan Arab, baik dari sisi ideologis, historis dan budaya. Kajian-kajian tentang keislamam diarahkan untuk terpisah dengan Arab. Apakah sekarang berlaku lagi gerakan pemisahan itu? Semoga tidak lagi.

 

Oleh : Ahmad Kholili hasib

Dosen Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam IAI Dalwa – Bangil
(NIDN: 2122118101)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *