Berita Kampus

Muktamar III Halaqoh BEM Pesantren ; Santri Harus Raih Posisi Governing Elite

Yogyakarta- Halaqah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Pesantren Se-Indonesia kembali mengadakan Muktamar III yang bertempat di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEBI) Al Muhsin Yogyakarta. Acara tahunan ini pula dilengkapi dengan Seminar Nasional dengan mengangkat tema “Mengukuhkan Integritas Mahasiswa Santri Menyambut Tahun Demokrasi”.

Dalam acara ini ketua panitia, menyampaikan bahwa muktamar ini merupakan agenda tahunan untuk mengatur mekanisme pertanggungjawaban dan pemilihan ketua baru Halaqoh BEM Pesantren se-Indonesia.

Rifqi Nurdin, Presidium Nasional Halaqah BEM Pesantren Se-Indonesia (2017-2018) menyampaikan dalam sambutannya, kedepannya santri harus bisa berpolitik dengan cara sopan, santun, ramah dan menghindari politik praktis yang kadang menjadi kontraproduktif, beliau juga menyampaikan bahwa para santri harus dapat menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran pesantren.

“Mobilitas dan panggung politik santri sudah dimulai sejak fase pra kemerdekaan. Kaum santri menjadi pejuang kemerdekaan dan turut kemudian mengisi kemerdekaan. Narasumber menambahkan, pada era reformasi dan demokrasi sekarang ini mobilitas dan panggung santri dalam dunia politik harus berlanjut dan semakin kuat. Mulai dari jabatan presiden, menteri, tidak lepas dari peran santri, momentum lima tahunan pilgub dan pileg juga tidak lepas dari kontestasi kader-kader santri untuk menempati posisi governing elite,” tutur Ketua STEBI Al-Muhsin, Dr. HM. Anis Mashduqi, Lc., MSI, dalam sambutan.

Dr. Marwan, MA., selaku narasumber menggantikan Prof. Dr. Mahfudz, MD yang berhalangan hadir, menegaskan pentingnya membangun dan menjaga integritas dalam politik dan pemerintahan. “Bersih keluar, juga bersih di dalam, tidak korupsi keluar, juga tidak korupsi di dalam”, tegasnya. Korupsi massal seperti terjadi di Malang dan Sumatera Utara, adalah bukti hilangnya integritas elit politik dan pejabat kita.

Narasumber kedua adalah Muhammad Mustafied, beliau menyampaikan bahwa integritas mahasiswa yang sudah teruji di level personal harus diterjemahkan dalam konteks etika publik. BEM IAI Dalwa mengirim lima delegasi dalam acara tersebut yaitu Ahmad Sayuti, Sholehuddin, Zainul Raziqin, Rifqi Nurdin dan Ahmad Tantowi. H-san/Red

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *