uncategorized

KHUTBAH IDUL ADHA 1437 H (Sebab-sebab Turunnya Berkah)

Oleh : Ali Akbar bin Muhammad bin Aqil

(Dosen Prodi PAI Fakultas Tarbiyah INI DALWA)

 

اللهُ أَكْبَرُ، أللهُ أَكْبَرُ، أللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحــدَهُ، صَـدَقَ وَعْـدَهُ وَنَصَـرَ عَبْـدَهُ وَأَعَزَّ جُنْـدَهُ وَهَـزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إِلَهَ إِلاّ اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنُ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ المُنَافِقُوْنَ.
الحمد لله الذي جعـل الأَضَـاحِـيَّ مِـنْ أَجْـلِ القُرْباَنِ، وَضَاعَفَ لِعَامِلِهاَ الحَسَناَتِ، وَكَانَتْ سَبَباً لِدُخُوْلِ أَهْلِهاَ الجَناَّتِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ فَازُوْا بِالجَنَّةِ. أَماَّ بَعْدُ :
فَياَ أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ.
الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد.

Kaum Muslimin, Rahimakumullah

Setiap manusia ingin agar hidupnya diberkahi oleh Allah SWT. Abu Manshur mengatakan dalam Tahdziibul Lughah, yang dimaksud dengan keberkahan secara bahasa adalah bertambah dan tumbuh. Artinya, pertambahan dan pertumbuhan dalam sesuatu. Jika sesuatu itu sedikit lalu diberkahi maka akan menjadi banyak. Jika sesuatu itu banyak dan diberkahi akan melahirkan manfaat kepada orang lain. Itulah makna berkah.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu memohon keberkahan kepada Allah SWT. Dalam makan dan minum, dalam pernikahan, dalam rezeki, dan dalam banyak hal lainnya. Karena itu, kita selalu memohon kepada Allah agar segala aktifitas yang kita lakoni senantiasa diiringi berkah.
Hanya saja, Allah SWT tidak sembarangan memberikan keberkahan pada para hamba-Nya. Salah satu contoh hamba yang Allah berkahi bisa kita lihat dari Nabi Ibrahim AS. Allah menurunkan berkah pada keturunan Nabi Ibrahim. Ketika usianya menapak tua, Allah anugerahkan anak kepadanya: Ismail dan Ya`qub. Keduanya menjadi anak yang shalih, cerdas, dan sehat. Di dalam Al-Qur’an keberkahan semacam ini diceritakan oleh Allah :
وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ، قَالَتْ يَا وَيْلَتَى أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ، قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَتُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

“Dan isterinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang kelahiran Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’kub. Isterinya berkata: “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak, padahal aku adalah perempuan seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.” Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlul bait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” (QS. Huud : 71-73).

 

Kisah Nabi Ibrahim menjadi bukti adanya berkah dalam keturunan. Keturunannya menjadi generasi yang shaleh, kuat iman dan takwanya. Ismail dan Ya`qub merupakan bukti nyata tentang adanya berkah yang diturunkan dalam keturunan. Keduanya menjadi anak-anak yang kuat imannya, luas ilmunya dan berbakti kepada kedua orang tuanya.
Dari kedua anak ini, terwujud kehidupan yang berkualitas yang merupakan impian dan dambaan setiap generasi. Dengan topangan generasi emas layaknya Ismail dan Ya`qub, kehidupan Islam dan umat Islam akan berjalan dengan baik dan senantiasa berada dalam kebaikan. Peradaban mulia yang pernah ada di masa silam tidak mustahil akan terwujud kembali, jika kita memiliki keturunan yang diberkahi oleh Allah.
Kaum Muslimin yang Mulia
Bagaimana cara mendapatkan berkah dalam kehidupan secara luas, seperti yang sudah diberikan kepada Nabi Ibrahim di atas? Pertama, mendasari keimanan dan ketakwaan dalam sebuah kegiatan atau usaha. Allah SWT hanya akan memberi keberkahan itu kepada orang yang beriman dan bertakwa kepada-Nya. Janji Allah SWT untuk memberikan keberkahan kepada orang yang beriman dan bertakwa terlampir dalam Al-Qur`an:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96).
Di dalam ayat di atas, dikemukakan bahwa Allah akan menganugerahkan keberkahan kepada hamba-hambanya yang beriman dan bertakwa kepada-Nya.

 

Semakin mantap iman dan takwa yang kita miliki, maka semakin besar keberkahan yang Allah berikan kepada kita. Karena itu menjadi keharusan kita bersama untuk terus mengokohkan iman dan takwa kepada Allah Swt.
Salah satu ayat yang amat menekankan peningkatan takwa kepada orang yang beriman adalah firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan jangan sampai kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri/muslim (QS. Ali Imran :102).

 

Allaahu Akbar3x, Wa Lillaahim Hamd
Kaum Muslimin yang Berbahagia
Kedua, beramal saleh dan berikhtiar memperbaiki hubungan dengan Allah dan semua makhluk-Nya. Memiliki hubungan yang baik dengan Allah (Hablun minalllaah) dan manusia (Hablun minan naas) harus dilakukan oleh semua orang yang ingin dilimpahi berkah dalam kehidupannya. Keimanan dan ketakwaan yang benar selalu ditunjukkan oleh seorang mukmin dalam bentuk melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya, baik dalam keadaan senang maupun susah, dalam keadaan sendiri maupun bersama orang lain. Tegasnya keimanan dan ketakwaan itu dibuktikan dalam situasi dan kondisi yang bagaimananpun juga dan dimanapun dia berada. Inilah wujud sikap Hablun Minanallah.
Adapun sikap yang baik terhadap sesama manusia terwujud dalam sikap tenggang rasa, saling tolong menolong, saling memaafkan, saling memperkuat tali persaudaraan, menghormati antara satu dengan yang lain, tidak saling menyakiti, menjauhi pergunjingan, dan suka berbagi kepada sesama yang membutuhkan bantuan, termasuk berkurban lalu membagikan dagingnya kepada orang yang terhimpit kerasnya hidup. Allah SWT berfirman,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sungguh akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97).
Ketiga, memulai setiap pekerjaan dengan menyebut nama Allah karena pada hakikatnya Dialah pemiliknya. Setiap memulai suatu perbuatan, awalilah dengan nama Allah. Mau makan, sebut nama Allah; mau keluar rumah, bekerja, mengantarkan anak ke sekolah, membetulkan rumah yang rusak, hendak belajar atau mengajar, awali semua itu dengan menyebut Allah sebagai satu-satunya Zat yang Maha Agung lagi Maha Besar. Dengan mengawali pekerjaan sembari menyebut nama Allah, rahmat dan berkah Allah akan melimpahi apa yang kita lakukan. Rasulullah SAW telah bersabda,
فاْجتَمعِوُا على طعامكم، واذكروا اسْمَ اللَّه، يُبَارَكْ لكم فيه

“Berkumpullah kalian atas makanan dan sebutlah nama Allah, maka Allah akan memberikan keberkahan pada kalian di dalamnya.” (HR. Abu Daud).
Keempat, menyegerakan diri dalam kebaikan dan membuang rasa malas di pagi hari. Rasulullah SAW mendoakan keberkahan bagi orang-orang yang menyegerakan diri dan bersemangat di pagi hari dalam meraih sukses melalui doa beliau:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah umatku yang (bersemangat ) di pagi harinya.” (HR. Abu Daud). Doa ini merupakan kesempatan besar bagi kita untuk meraih berkah. Doa yang dilangsung dipanjatkan oleh kekasih Allah, Sayidina Muhammad SAW, yang tiada penghalang untuk dikabulkan oleh-Nya.
Caranya, awali pagi hari dengan bangun lebih awal, lakukan salat malam dan ibadah-ibadah lainnya, laksankan salat subuh berjamaah di masjid, berzikir di pagi hari, salat Duha, setelah itu menyebarlah di muka bumi untuk menjemput rezeki dan karunia Allah yang terhampar luas.

 

Allaahu Akbar3x Wa Lillaahim Hamd
Kaum Muslimin yang Dimuliakan Allah SWT
Kelima, berlaku jujur dan melayani pelanggan dengan baik dan ikhlas. Rasulullah SAW bersabda,
البَيِّعَانِ بالخِيَار مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإنْ صَدَقا وَبيَّنَا بُوركَ لَهُمَا في بيعِهمَا، وإنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بركَةُ بَيعِهِما

“Penjual dan pembeli itu diberi pilihan selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya jujur dan menjelaskan (kondisi barangnya), maka keduanya diberkahi dalam jual belinya. Namun bila keduanya menyembunyikan dan berdusta, maka akan dihilangkan keberkahan jual beli keduanya.” (HR. Bukhari-Muslim).
Hadis di atas memberikan pelajaran berharga bahwa dalam transaksi jual-beli yang tak terelakkan dalam kehidupan harus dilandasi kejujuran. Kunci keberkahan adalah kejujuran. Semakin kita berlaku jujur pada saat kita bermuamalah semakin deras berkah yang turun dalam rezeki kita. Semakin kita jauh dari kejujuran, lekat dengan tipu daya, kebohongan, berkah itu tak akan kunjung turun bahkan akan semakin menjauh dari rezeki kita. Jika rezeki kita berkah hidup menjadi damai dan bahagia. Jika rezeki jauh dari berkah, hidup terasa sempit dan sesak.
Kaum Muslimin yang Diberkahi Allah Ta`ala
Demikianlah khutbah Idul Adha pada pagi hari ini. Intinya, apabila manusia, baik secara pribadi maupun kelompok atau masyarakat memperoleh keberkahan dari Allah Swt, maka kehidupannya akan selalu berjalan dengan baik, rezeki yang diperolehnya cukup bahkan melimpah, sedang ilmu dan amalnya selalu memberi manfaat yang besar dalam kehidupan.
Di sinilah letak pentingnya bagi kita memahami apa sebenarnya keberkahan itu agar kita bisa berusaha semaksimal mungkin untuk meraihnya. Akhirnya menjadi jelas bagi kita bahwa, keberkahan dari Allah yang kita dambakan itu, memperolehnya harus dengan berdoa dan berusaha yang sungguh-sungguh, yakni dalam bentuk memantapkan iman dan takwa, selalu memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama, berserah diri kepada Allah lewat mengawali sesuatu dengan menyebut nama Allah, bersegara dalam kebaikan, dan bersikap jujur.

 

Semoga kehidupan kita senantiasa diberkahi Allah SWT. Hidup yang membawa manfaat bagi sesama, selamat di dunia hingga akhirat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *